Kamis, 10 September 2020

Strategi Usaha Mikro Kecil Menengah Memenangkan Bisnis di Tengah Pandemi

Pandemi Covid 19 menghantam keras sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Data dari Departemen Pengembangan UMKM dan Perlindungan Konsumen Bank Indonesia mengungkapkan bahwa sebanyak 72 persen pelaku UMKM terdampak pandemi Covid-19. Pelaku UMKM mengalami penurunan penjualan, penyaluran modal, dan semua terdampak.

Dari seluruh pelaku UMKM, tiga sektor yang paling terdampak pendemi yaitu pertanian, ekspor, dan kerajinan pendukung wisata. Selain itu, s 153 pelaku UMKM pertanian berdampak, sedangkan sektor ekspor 83 UMKM dan 429 pelaku UMKM sektor kerajinan pendukung wisata.

Ada sekitar 63 juta pelaku usaha UMKM yang merupakan 99,9 % dari total pelaku usaha di Indonesia. UMKM menyerap 97% tenaga kerja nasional dan pada tahun 2019 UMKM berkontribusi 60,34% terhadap PDB. Artinya jelas bahwa UMKM memiliki peran yang sangat signifikan dalam perekonomian NKRI. Salah satu indikator keberhasilan pengembangan UMKM adalah seberapa banyak UMKM yang naik kelas menjadi Usaha Besar.

Untuk mendukung upaya pemerintah dalam menggalakkan generasi muda menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, Tanoto Foundation bersama MM FEB-UI menyelenggarakan Tanoto Entrepreneurship Series, sebuah kegiatan peningkatan kualitas softskill bagi mahasiswa MM FEB-UI bertajuk Winning Strategies for Small and Medium Size Businesses Amidst Covid-19 Pandemic. Kegiatan ini digelar secara virtual pada 9 September 2019 dan dibuka oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI Teten Masduki.

“Penting bagi kita untuk memiliki entrepreneur-entrepreneur baru, terutama dari kalangan anak muda yang mendominasi populasi kita. Di tengah pandemi Covid-19, ini adalah momen yang tepat untuk mencari solusi dan inovasi agar kita bisa bertahan. Sehingga pada saat ekonomi membaik, kita sudah siap untuk tumbuh,” kata Teten Masduki saat memberi sambutan.

Selain Teten, acara juga diisi oleh Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia, Sunarso. Dalam pemaparannya, Sunarso menjelaskan mengenai peran perbankan dalam mendorong pemulihan UMKM agar mereka segera bangkit kembali yang pada gilirannya diharapkan bisa memulihkan kondisi ekonomi nasional.

“Pemerintah menempatkan deposito sebesar Rp30 triliun di bank-bank anggota Himbara (Himpunan Bank Negara) di mana saya menjadi ketuanya. Dan kami diminta untuk menyalurkan pendanaan hingga tiga kali lipatnya (Rp90 triliun) untuk UMKM,” demikian dijelaskan Sunarso.

“Antara 16 Maret hingga 31 Agustus, BRI telah merestrukturisasi utang 2.976.282 debitur, dan itu menyangkut besaran kredit Rp189,1 triliun. Kami sementara tidak memikirkan laba. Bisa hidup saja sudah bagus. Agar bank tetap hidup, maka UMKM-nya juga harus hidup dan bertahan,” tambah Sunarso lagi.

Sementara itu, Hanna Keraf, Chief Community Officer Du Anyam (social enterprise yang memproduksi kerajinan anyaman karya perempuan di Indonesia Timur), menyebut tentang langkah adaptasi yang harus ditempuh oleh UMKM agar mereka bisa bertahan di tengah pandemi. “Yang Du Anyam sudah pernah lakukan dari tahun 2019 sebelum pandemi adalah ke depan, UMKM harus lebih go digital,” ujar Hanna.

Tanoto Foundation sendiri menegaskan komitmennya untuk mendukung upaya untuk mengembangkan para pemimpin masa depan yang memiliki karakter dan semangat kewirausahaan.

“Kemitraan strategis antara Tanoto Foundation dan Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia dalam event Tanoto Entrepreneurship Series didasari oleh kesamaan visi yakni untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan sekaligus melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan Indonesia, khususnya generasi muda di sektor kewirausahaan,” kata Aryanti Savitri, Head of Scholarship & Leadership Development Tanoto Foundation.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comments