Kamis, 16 September 2021

Bincang Inspiratif: Menumbuhkan Kecintaan Membaca Buku

“Membaca buku bisa diibaratkan seperti mendapatkan peta untuk membantu kita menavigasi hidup. Tentunya, membaca juga bisa menjadi sebuah relaksasi yang menawarkan kesunyian dari pikiran kita yang bising,” kata Fellexandro Ruby.

Meskipun kita hidup di zaman konten, di mana ada banyak sekali artikel, podcast, dan video pendek, buku tetaplah menjadi sumber pengetahuan dan perspektif serta hiburan yang tidak tergantikan. Membaca pun menjadi salah satu kebiasaan yang orang tua ingin tumbuhkan pada anak, terutama karena buku bisa mengalihkan perhatian dari gawai dan mengurangi screen time anak.

Akan tetapi, membaca masih belum menjadi kebiasaan di Indonesia. Menurut penelitian World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, Indonesia memiliki jumlah perpustakaan terbanyak kedua di dunia dengan 164.610 unit. Urutan pertama ditempati India dengan 323.605 perpustakaan.

Dalam episode terbaru Bincang Inspiratif dari Tanoto Foundation, content creator dan pembaca garis keras Fellexandro Ruby bercerita pada host Rachel Amanda Aurora tentang manfaat membaca dan tips untuk menumbuhkan kecintaan membaca pada orang tua dan anak-anak.

Episode ini membahas:

— Pentingnya membaca

— Cara mengajak anak membaca

— Tips memilih buku yang tepat

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Tanoto Foundation (@tanotoeducation)

Pentingnya membaca

Manfaat membaca sudah banyak diungkapkan berbagai penelitian. Untuk anak-anak, membaca diasosiasikan dengan tingkat kecerdasan yang lebih tinggi, perkembangan otak yang lebih kuat untuk bagian yang menangani bahasa dan informasi visual, dan juga menumbuhkan kemampuan berempati.

Membaca juga tetap penting untuk orang dewasa di tengah banyaknya jumlah konten lainnya. Fellexandro menyamakan buku dengan hidangan utama, dan podcast atau unggahan media sosial lainnya sebagai kudapan ringan yang mengusir kebosanan tapi memiliki kandungan nutrisi yang rendah.

Bagi Fellexandro, membaca itu seperti menerima peta untuk menavigasi hidup. “Buku berisi pengetahuan, perspektif, dan pengalaman dari orang yang mungkin sudah bertahun-tahun mendalami topik tersebut. Ketika kita menghadapi suatu masalah, mungkin untuk pertama kalinya, buku bisa menjadi bantuan yang luar biasa,” kata Fellexandro.

Di dunia serba terkoneksi di mana kita tidak bisa lari dari pekerjaan atau kesibukan lainnya, buku membantu kita untuk fokus. “30 menit di mana kita bisa merasa tenang itu menjadi kemewahan sekarang, dan buku membantu pikiran kita agar bisa lebih sunyi,” kata Fellexandro.

Cara mengajak anak membaca

Indonesia sedang menggalakkan kebiasaan membaca. Jakarta sendiri sebagai ibukota saat ini sedang berambisi meraih status World Book Capital dan City of Literature dari UNESCO. Tentu saja ini butuh usaha yang luar biasa untuk mengkampanyekan membaca sebagai sebuah kebiasaan untuk semua orang, dari anak-anak sampai orang tua.

Untuk orang tua yang ingin mengajak anaknya membaca, Fellexandro merumuskan tiga strategi: buat membaca menjadi menyenangkan, aksesibel, dan berharga.

Orang tua bisa membuat pengalaman membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan. Meskipun buku bisa terkesan membosankan, orang tua bisa membuat bacaan menjadi lebih seru. Contohnya, dengan menggunakan buku interaktif, membaca cerita dengan menggunakan suara dan mainan, serta membuat rutinitas malam membaca yang akan ditunggu-tunggu oleh anak.

Secara harfiah, aksesibel berarti membuat buku mudah diakses. Orang tua bisa meletakkan buku di berbagai sudut rumah agar mudah diraih oleh anak. Dalam artian lain, orang tua juga perlu memastikan materi atau substansi buku tersebut juga ramah untuk anak, sehingga mudah dimengerti dan memicu ketertarikan lebih lanjut untuk membaca.

Menjadikan buku sebagai pengalaman berharga bisa dimulai dari penggunaan konsekuensi positif (positive reinforcement) atau sistem hadiah. Dalam strategi ini, orang tua menghadirkan motivasi eksternal untuk mengajak anak membaca. Diharapkan anak akan melanjutkan kebiasaan membaca ini dengan sendirinya.

“Anak adalah peniru yang hebat,” kata Fellexandro, “Jika orang tua ingin anaknya membaca, maka mereka sendiri harus terbiasa membaca juga.”

Tips memilih buku yang tepat

Untuk membangun kebiasaan membaca, orang tua perlu meninggalkan persepsi yang salah: pertama, bahwa orang harus membaca buku yang populer, dan kedua, bahwa buku harus dihabiskan seluruhnya.

“Bacalah buku yang relevan untuk diri sendiri, bisa jadi buku yang membahas masalah yang sedang kita hadapi, atau buku yang menarik minat kita,” kata Fellexandro.

Kedua, meskipun membaca buku bisa menjadi pencapaian tersendiri, beban dan rasa bersalah ketika kita tidak menamatkan sebuah buku mungkin menjadi hambatan orang untuk membaca lagi. Dalam kasus ini, kita harus menjadi lebih realistis dan praktis soal membaca. “Kalau kamu hanya perlu membaca dua atau tiga bab saja, ya silakan. Jangan merasa bersalah karena tidak membaca buku sampai selesai,” kata Fellexandro.

Untuk orang tua yang sedang mencari bacaan yang tepat untuk anak, cara paling aman adalah dengan memilih topik yang anak sedang sukai. Dengan modal ketertarikan di awal, anak akan lebih mau diajak menyelami topik itu secara lebih dalam dengan membaca. Ini jauh lebih baik daripada membaca hanya untuk membaca saja, atau memaksa anak membaca buku klasik yang belum tentu berhubungan dengan hidup mereka di masa ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comments