Selasa, 28 Mei 2019

Project Sukacita VII, Persembahan Tanoto Scholars di Singapura untuk Masyarakat Pangkalan Kerinci

Project Sukacita merupakan program sosial tahunan dari Tanoto Scholars di Singapura yang memberikan layanan bagi masyarakat kurang beruntung di Pangkalan Kerinci, Riau. Kegiatan ini telah berjalan sejak 2012 yang diinisiasi oleh Tanoto Scholars di Singapore Management University, yang dalam beberapa edisi terakhir juga diikuti rekan-rekan mereka di National University of Singapore, dan Nanyang Technological University.

Pada Project Sukacita VII tahun 2019 diikuti 33 mahasiswa dari ketiga perguruan tinggi tersebut yang dilaksanakan pada 6-19 Mei 2019. Kegiatan mereka antara lain mengunjungi sekolah-sekolah untuk membimbing belajar dan bermain bersama anak-anak, memberi motivasi, mengajak anak-anak untuk membiasakan diri hidup bersih dan sehat, juga ada sesi pemeriksaan kesehatan anak dan orang tua.

Baca juga: Menjadi Bagian Perubahan dalam Project Sukacita

“Saya belajar banyak hal dari kegiatan ini. Saya belum pernah bergabung dengan proyek layanan masyarakat sebelumnya, jadi saya tidak tahu apa yang diharapkan. Ternyata, Project Sukacita ini adalah pengalaman yang sangat menyenangkan, mengesankan, dan membuka mata saya, “ kata Kelsey Rochili Santoso, Tanoto Scholar dari SMU.

“Saya belajar untuk lebih peduli terhadap budaya lain. Meskipun saya orang Indonesia, saya tumbuh di ibu kota di mana orang-orangnya lebih terbuka dan beragam. Namun, ini tidak terjadi di pedesaan Pangkalan Kerinci, jadi saya harus lebih sadar akan kebiasaan lokal agar tidak menyinggung siapa pun,” tambah Kelsey.

Sementara itu, Tanoto Scholar dari NUS Chia Yi Mian mengungkapkan bahwa Project Sukacita tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya di mana ia juga turut serta. Hal ini karena Chia Yia Mian ditunjuk menjadi wakil ketua pelaksana kegiatan.

“Saya belajar bahwa seorang pemimpin yang baik mampu memimpin orang lain tidak hanya melalui ucapan, tetapi juga dengan teladan. Penting juga untuk diingat bahwa seorang pemimpin haruslah seseorang yang melayani, tidak hanya merencanakan atau memberi instruksi, tetapi juga dalam pelaksanaannya,” kata Chia Yi Mian.

Tanggapan positif juga datang dari Vincent Wise, peserta dari NTU. Ia mengaku banyak mendapatkan pengalaman baru dalam mengikuti kegiatan ini.

“Saya belajar banyak tentang kerja sama tim dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Saya belajar bagaimana berkomunikasi secara efektif dengan orang-orang yang membutuhkan, seperti saat pemeriksaanng kesehatan. Juga belajar bagaimana cara menangani anak-anak,” tutur Vincent.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *