blog

Selasa, 30 April 2019

Menjadi Guru Inspiratif dengan Konsep MIKIR Tanoto Foundation

 

The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires. William Arthur Ward

Guru yang menginspirasi selalu mampu menciptakan berbagai gagasan kreatif. Setiap guru harus mampu mendorong peserta didik untuk menciptakan gagasan atau tindakan yang kreatif dalam proses pembelajaran. Tentunya, gagasan kreatif ini harus tertuang dalam setiap kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam proses belajar. Berbagai kegiatan kreatif dalam proses belajar harus mampu merangsang peserta didik turut aktif. Nurul Faidah, Guru Wali Kelas yang mengajar di Sekolah Mandrasah Ibtidaiyah Nahdiatul Ulama Balikpapan, menggunakan konsep MIKIR Tanoto Foundation agar peserta dididknya turut aktif dalam pembelajaran.

MIKIR merupakan unsur dari pembelajaran aktif yang dikenalkan oleh Tanoto Foundation kepada berbagai sekolah mitra Tanoto Foundation. MIKIR merupakan akronim dari mengalami, interaksi, komunikasi, dan refleksi. Pendekatan berusaha menjawab tantangan abad 21 dan mempraktiskan unsur 5M yang ada dalam kurtilas (Kurikulum 13). Pendekatan ini diharapkan memampukan peserta didik untuk lebih kreatif, mampu berkolaborasi dalam tim, dan kritis selama pembelajaran berlangsung. Konsep MIKIR sejalan dengan Nurul yaitu peserta didik harus mampu memunculkan ide/gagasan maupun tindakan berdasarkan pada materi yang sudah diajarkan. Nurul menggunakan konsep MIKIR untuk peserta didik di Kelas 2C peserta didiknya sangat menikmati pembelajaran dengan menggunakan konsep tersebut.

Posted by Nurul Uminya Athayaalf on Wednesday, 27 February 2019

 

Jadi intinya, konsep MIKIR itu mengubah konsep guru yang tadinya cuman memberi informasi terus anak-anak menulis. Dari saya dulu waktu sebagai anak murid, saya hanya mendengarkan, menerima informasi dari guru dan menulis atau mengingat saja. Kalau konsep mikir itu, anak-anak diajak untuk ikut berkreasi dalam proses pembelajaran.

Saya merasakan sendiri di kelas saya, anak-anak tidak merasa sedang belajar, mereka kadang bertanya “Loh, Bu kita tidak belajar?” Saya jawab,”ini kita sedang belajar.” Anak-anak sebenarnya belajar tapi tidak terbebani dengan, oh aku harus tau ini, aku harus hafal ini. Ternyata dengan seperti itu, malah anak-anak lebih mudah menyerap setiap materi daripada pada menjelaskan dan anak-anak menulis. Jadi, mikir adalah konsep belajar menyenangkan.

Pembelajaran dengan menggunakan konsep MIKIR ini memang sangat membantu dalam proses belajar-mengajar. Guru diasah kemampuannya untuk menciptakan berbagai kegiatan kreatif dan inovatif, sementara peserta didik diajak untuk belajar bekerja dalam tim dan lebih kritis. Ummi, begitu peserta didik memanggil Nurul, secara rutin menggunakan konsep MIKIR dalam proses pembelajaran di kelasnya. Misalanya, beberapa waktu lalu Nurul menggunakan konsep MIKIR untuk belajar tema Makanan Sehat. Tujuan pembelajarannya adalah agar peserta didik mampu mengidentifikasi makanan sebagai zat pengatur, zat pembangun, dan zat tenaga.

Dalam pembelajaran ini, para peserta didik diminta untuk mengelompokkan makanan yang mereka bawa berdasarkan pada ketiga zat untuk makanan sehat tersebut. Dalam proses tersebut para peserta didik sudah melakukan identifikasi, komunikasi, dan interaksi. Identifikasi, para peserta didik mengelompokkan makanan yang dibawa berdasarkan pada kelompok zat yang disudah diberitahukan. Kemudian komunikasi, pesera didik menyebutkan makanan yang dibawa. Interaksi, peserta didik berinteraksi dengan teman-teman yang juga membawa makanan sehat. Peserta didik sangat menikmati mengetahui berbagai makanan sehat dan pengelompokkannya dengan metode MIKIR ini.

Setiap kegiatan pembelajaran jadi berbeda dan lebih menarik. Anak-anak belajarpun jadi lebih semangat. Anak-anak jadi senang karena belajar sambil bermain. Saya pribadi, konsep mikir menambah wawasan saya. Ini mengajak saya untuk berpikir dan mengajak saya untuk lebih kreatif dan bahlkan lebih dekat dengan anak.

Karakter anak-anak itu berbeda-beda, ada yang pasif, kalau Cuma menulis saja ya bisa. Kalau anak yang pasif selalu diam. Konsep Mikir memampukan anak ini untuk lebih mau berbaur dengan teman-temannya.

Dengan menggunakan konsep mikir, tidak hanya peserta didik dan guru yang turut ambil bagian dalam proses pembelajaran. Orangtua pun disertakan dalam proses pembelajaran ini, seperti menyiapkan makanan sehat dari rumah untuk dibawa ke sekolah. Secara khusus, Nurul meminta orangtua untuk membuatkan bekal makanan sehat untuk dibawa ke Sekolah. Orangtua sebagai primier educator memang wajib mengetahui apa yang dipelajari anaknya di sekolah.

Orangtua benar-benar mensupport. Mereka sangat senang anak-anaknya belajar dengan metode seperti itu. Pastinya, mereka mendapat oleh-oleh cerita dari anak-anak. Kalau belajar dengan konsep mikir gini pasti anak-anak-anak suka sampaikan ke orangtuanya. Tanggapan orangtua pun sangat postif jadi kita yang mengajar juga semangat.

Tanoto Foundation percaya bahwa pendidikan berkualitas akan mempercepat munculnya kesetaraan peluang. Semakin baik pendidikan semakin mudah untuk memutuskan rantai kemiskinan, maka dari itu Tanoto Foundation selalu ambil bagian dalam memajukan kualitas pendidikan di Indonesia. Melalui konsep MIKIR Tanoto Foundation diharapkan guru-guru lain juga terinspirasi untuk melakukan pembelajaran yang memampukan peserta didik untuk turut aktif dalam pembelajaran. Pun Nurul ngin agar guru-guru lain juga terinspirasi dari kegiatan yang dia lakukan untuk peserta didiknya dikelas. Secara rutin, Nurul membagikan berbagai kegiatannya dalam media sosial untuk menginspirasi rekan kerja lain.

 “Saya suka upload kegiatan saya di facebook. sebenarnya upload itu bukan karena kita pamer, tapi mau memberikan inspirasi untuk guru-guru lain, siapa tau bisa dengan  melihat idenyabisa juga dipakai di kelasnya. Walaupun kelasnya beda, tetap bisa coba diaplikasikan dikelasnya masing-masing”

Guru menjadi educator yang bersentuhan langsung dengan peserta didik dalam dunia pendidikan. Seorang guru hebat dan penuh inspirasi merupakan keinginan terbesar semua guru, untuk selalu dapat memberikan yang terbaik bagi perserta didiknya. Guru harus mampu menginspirasi peserta didik melalui interaksi yang mereka lakukan di sekolah untuk mampu memperbaiki kualitas pendidikan. Tentunya, kualitas pendidikan dapat terbentuk dari bagaimana kualitas para guru dalam mengampu mata pelajarannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

AUTHOR

Hotmian Simalango